UNTAG | Universitas 17 Agustus 1945 Samarinda
Rubrik : Berita Terkini
HABIS GELAP TERBITLAH TERANG
2014-04-21 07:40:03 - by : Jumani


Samarinda, 21 April 2014. Dalam rangka memperingati hari Kartini 21 April 2014, dalam apael pagi Rektor Universitas 17 Agustus 1945 Samarinda Bapak Prof. Dr. H. Eddy Soegiarto K, S.E., M.M. menyampaikan beberapa wejangan bahwa kita harus lebih bekerja keras dalam meneladani sifat dari RA. Kartini. sifat itu adalah di implementasikannya kebiasaan yang baik untuk menciptakan pendidikan yang sehat. Pendidikan yang sehat dalam bidang akademik dan sehat jasmani pengelola pendidikan baik Dosen, Karyawan dan staf untuk pelayanan pendidikan yang sehat. Berbagai aturan dan rambu-rambu dari DIKTI cukup untuk sebuah Perguruan Tinggi untuk mengukur sampai dimana posisi Institusi Kita. Dengan semangat hari Kartini kita teladani semangat juangnya untuk berjuang di masa kemerdekaan ini.


 


Raden
Ajeng Kartini

"Door
Duisternis tot Licht" - "Habis Gelap Terbitlah Terang",
itulah judul buku dari kumpulan surat-surat Raden Ajeng Kartini yang terkenal. Surat-surat
yang dituliskan kepada sahabat-sahabatnya di negeri Belanda itu kemudian
menjadi bukti betapa besarnya keinginan dari seorang Kartini untuk melepaskan
kaumnya dari diskriminasi yang sudah membudaya pada zamannya.



Di
era Kartini, akhir abad 19 sampai awal abad 20, wanita-wanita negeri ini belum
memperoleh kebebasan dalam berbagai hal. Mereka belum diijinkan untuk
memperoleh pendidikan yang tinggi seperti pria bahkan belum diijinkan
menentukan jodoh/suami sendiri, dan lain sebagainya.



Kartini
yang merasa tidak bebas menentukan pilihan bahkan merasa tidak mempunyai
pilihan sama sekali karena dilahirkan sebagai seorang wanita, juga selalu
diperlakukan beda dengan saudara maupun teman-temannya yang pria, serta
perasaan iri dengan kebebasan wanita-wanita Belanda, akhirnya menumbuhkan
keinginan dan tekad di hatinya untuk mengubah kebiasan kurang baik itu.



Pada
saat itu, Raden Ajeng Kartini yang lahir di Jepara, Jawa Tengah pada tanggal 21
April 1879, ini sebenarnya sangat menginginkan bisa memperoleh pendidikan yang
lebih tinggi, namun sebagaimana kebiasaan saat itu dia pun tidak diizinkan oleh
orang tuanya.



Dia
hanya sempat memperoleh pendidikan sampai E.L.S. (Europese Lagere School) atau
tingkat sekolah dasar. Setamat E.L.S, Kartini pun dipingit sebagaimana
kebiasaan atau adat-istiadat yang berlaku di tempat kelahirannya dimana setelah
seorang wanita menamatkan sekolah di tingkat sekolah dasar, gadis tersebut
harus menjalani masa pingitan sampai tiba saatnya untuk menikah.



Merasakan
hambatan demikian, Kartini remaja yang banyak bergaul dengan orang-orang
terpelajar serta gemar membaca buku khususnya buku-buku mengenai kemajuan
wanita seperti karya-karya Multatuli "Max Havelaar" dan karya
tokoh-tokoh pejuang wanita di Eropa, mulai menyadari betapa tertinggalnya
wanita sebangsanya bila dibandingkan dengan wanita bangsa lain terutama wanita
Eropa. 

 Dia
merasakan sendiri bagaimana ia hanya diperbolehkan sekolah sampai tingkat
sekolah dasar saja padahal dirinya adalah anak seorang Bupati. Hatinya merasa
sedih melihat kaumnya dari anak keluarga biasa yang tidak pernah disekolahkan
sama sekali.



Sejak
saat itu, dia pun berkeinginan dan bertekad untuk memajukan wanita bangsanya,
Indonesia. Dan langkah untuk memajukan itu menurutnya bisa dicapai melalui
pendidikan. Untuk merealisasikan cita-citanya itu, dia mengawalinya dengan
mendirikan sekolah untuk anak gadis di daerah kelahirannya, Jepara. Di sekolah
tersebut diajarkan pelajaran menjahit, menyulam, memasak, dan sebagainya.
Semuanya itu diberikannya tanpa memungut bayaran alias cuma-cuma.



Bahkan
demi cita-cita mulianya itu, dia sendiri berencana mengikuti Sekolah Guru di
Negeri Belanda dengan maksud agar dirinya bisa menjadi seorang pendidik yang
lebih baik. Beasiswa dari Pemerintah Belanda pun telah berhasil diperolehnya,
namun keinginan tersebut kembali tidak tercapai karena larangan orangtuanya.
Guna mencegah kepergiannya tersebut, orangtuanya pun memaksanya menikah pada
saat itu dengan Raden Adipati Joyodiningrat, seorang Bupati di Rembang.



Berbagai
rintangan tidak menyurutkan semangatnya, bahkan pernikahan sekalipun. Setelah
menikah, dia masih mendirikan sekolah di Rembang di samping sekolah di Jepara
yang sudah didirikannya sebelum menikah. Apa yang dilakukannya dengan sekolah
itu kemudian diikuti oleh wanita-wanita lainnya dengan mendirikan ‘Sekolah
Kartini’ di tempat masing-masing seperti di Semarang, Surabaya, Yogyakarta,
Malang, Madiun, dan Cirebon.



Setelah
meninggalnya Kartini, surat-surat tersebut kemudian dikumpulkan dan diterbitkan
menjadi sebuah buku yang dalam bahasa Belanda berjudul Door Duisternis tot
Licht (Habis Gelap Terbitlah Terang). Apa yang terdapat dalam buku itu sangat
berpengaruh besar dalam mendorong kemajuan wanita Indonesia karena isi tulisan
tersebut telah menjadi sumber motivasi perjuangan bagi kaum wanita Indonesia di
kemudian hari.



Apa
yang sudah dilakukan RA Kartini sangatlah besar pengaruhnya kepada kebangkitan
bangsa ini. Mungkin akan lebih besar dan lebih banyak lagi yang akan
dilakukannya seandainya Allah memberikan usia yang panjang kepadanya. Namun
Allah menghendaki lain, ia meninggal dunia di usia muda, usia 25 tahun, yakni
pada tanggal 17 September 1904, ketika melahirkan putra pertamanya.



Mengingat
besarnya jasa Kartini pada bangsa ini maka atas nama negara, pemerintahan
Presiden Soekarno, Presiden Pertama Republik Indonesia mengeluarkan Keputusan
Presiden Republik Indonesia No.108 Tahun 1964, tanggal 2 Mei 1964 yang
menetapkan Kartini sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional sekaligus menetapkan hari
lahir Kartini, tanggal 21 April, untuk diperingati setiap tahun sebagai hari
besar yang kemudian dikenal sebagai Hari Kartini.

Sumber: http//www.tokohindonesia.com

UNTAG | Universitas 17 Agustus 1945 Samarinda :
Versi Online : /article/269/HABIS GELAP TERBITLAH TERANG.html